Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2012

MERAPI

rencananya naik 4 orang, menyusut jadi 2 orang, tapi show must go on mamen..

16 Mei berangkat dari Salatiga, berboncengan.. setelah Ampel belok kiri lewat arah Makan Prof. Soeharso, lewat Cepogo, nyampe Selo. jalan naik menuju Selo sempit dan berkelok2 kayak  ular.

Sempat kelewatan nyampe New Selo waktu nyari basecamp, setelah ketemu basecampnya, kita turun dulu, nyari makan di pasar selo. makan soto anget ala Selo. rasanya kayak soto daging sapi,



setelah daftar, jam 14.30 tapi g dapet karcis, kita mulai jalan. trek langsung naik, berat, nyampe New Selo istirahat bentar foto2. lwat samping kiri New Selo, melewati ladang penduduk, jalan setapak trek curam. sangat menguras tenaga, kalau ini lintasan pacuan kuda, maka disebut lintasan penghancur jantung. g ada bonus-bonusnya... 

New Selo,warung dan gardu pandang, Merbabu di seberang
selewat ladang-ladang, kita melalui hutan sedikit, habis itu langsung trek terjal menyusuri punggungan bukit, dengan jurang di kiri dan kanan jalur. jalurnya seperti udah jalur puncak-puncak gunung. terjal, berbatu, vegetasi pohon kecil, bercabang banyak. 

kita jalan terus sesekali istirahat, tanpa tahu sudah nyampe pos berapa. jalur merapi ini pos-pos pemberhentian, terutama pos I dan Pos II tidak jelas. katanya hilang dan rusak termasuk jalurnya setelah erupsi tahun 2010. selain itu, banyak sekali jalur penduduk yang bikin bingung, tanpa penunjuk arah yang jelas.

tapi setelah pos II (kira2) jalur cuma satu, menanjak menyusuri punggungan gunung, dengan jurang kiri kanan, ga ada jalan lain,. setelah pos II menuju pos III (watu gajah: batu besar bentuknya mirip gajah) jalanan terjal, hanya tanjakan dan batu-batu besar dan kecil.  ini to trek gunung berapi.

Merbabu di seberang
 jalanan terus naik, batu dan pasir yang labil jika diinjak, tanpa pepohonan atau vegettasi yang menahan angin, jalur ini memang rawan, rawan terpeleset terus masuk sampe ke jurang atau kedinginan kena angin tanpa pengahalang. 

terus naik dan menguras tenaga hingga ke pos IV pasar Bubrah yang katanya merupakan pasar tempat transaksi makhluk halus. g tau transaksi apa, mungkin transaksi gadget terbaru untuk nakutin manusia, seperti model rambut baru mbak kunthi ato, cara iket pocong ala K-pop, ato apalah :p


di pasar Bubrah, kita nyari lokasi terlindung angin dibalik batu besar. waktu menunjukkan Magrib, segera dirikan tenda. kesalahan saya waktu udah dingin ga segera pakai jaket , akhirnya malah meriang. setelah bikin susu jahe dan makan mie, ternyata malah saya muntah. yaah, badan drop deh. 

Puncak dari Pos II

rencanya malam kita maen ke tenda bule Polandia sama guidenya yang tadi barengan naik ketemu di pos I, tapi karena dingin dan meriang, g jadi. langsung tidur sampai dini hari. waktu dini hari tubuh berasa belum fit, maka saya bilang ke rekan seperjalanan bhwa saya  g bisa mencapai summit dan ketemu sunrise. akhirnya dia memutuskan untuk naik sendiri, bareng pendaki lain jam setegah 5 pagi.

langit ala Indonesia
saya memutuskan tidur memulihkan badan untuk tenaga pulang, kalo g kuat pulang gaswat gan,,

jam 08 temen saya datang dari puncak, saya masih leyeh-leyeh. setelah sarapan energen dan minum susu, segera kita berkemas, beresin tenda dan packing. temen saya tadi muncak bareng masbro dari Surabaya, sama mereka saya minta kali aja punya minuman penambah energi,, dan dikasih Okk* Jell* Dr*nk dan nutrisari,, segar,,,,

dan kita pun turun gunung dalam diam, sekitar 3,5 jam kita sampai di basecamp, tidur sebentar, dan pulang ke kota asal Salatiga tercinta.... 

Merapi,, I promise someday i'll be on your summit..... 

puncak garuda

Selasa, 07 Februari 2012

DIKARENAKeN TULISAN YG DIBUAT TEMEN ANE BAGUS, JADI CERITA TTG LAWU AKHIR 2011 ADALAH TULISAN BELIAU,, CHECK IT

Bismillahirrohmanirrohim...

Bis Solo-Semarang, perjalanan Pulang.

“.....Lestari alamku, lestari desaku, dimana Tuhanku menitipkan aku, nyanyi bocah bocah dikala purnama, nyanyikan pujaan untuk nusa. Damai saudaraku, suburlah bumiku, kuingat ibuku dongengkan cerita, kisah tentang jaya nusantara lama, tentram karta raharja disana....”

Lantunan lagu balada yang diputar oleh sopir bis Solo-Semarang ini meningkahi perjalananku pulang ke Semarang. Seolah bait demi baitnya mengajakku berpikir-setelah semalaman puas terlantar di terminal-bahwa memang tanah ini terlampau indah untuk tidak dicintai, dan terlampau bernilai untuk disia siakan....

Perjalanku kali ini diawali dengan sejuta asa tentang kembali kepada pelukan ibu pertiwi, tentang bagaimana kau kembali mencintai negeri, bagaimana kau kembali merengkuh asa akan negeri ini. maka aku memutuskan untuk bergabung dengan rombongan kecil tapi santai dan berisi 4 orang aneh yang ingin pergi ke gunung Lawu. Menikmati keindahan alam, dan guratan maha Indah dari Sang Pemilik Jagad Raya.

Siang itu, setelah usai kami berempat berkemas, kami bertolak dari tembalang, Semarang, menuju Solo. menaiki bus ekonomi, berdesakan, maklum saat itu adalah menjelang tahun baru. Kami singgah sejenak di salatiga untuk solat jum’at sebelum kemudian berlanjut ke solo. berempat kami tertawa lepas, menikmati perjalanan dan menikmati setiap desakan desakan penumpang, menikmati lagu lagu pengamen yang memaksa naik di kepadatan penumpang.

Tirtonadi, disini kami kemudian bertemu rombongan lain dari Jogja, yang juga ingin mendaki gunung Lawu. Aku pun makin semangat melihat pemuda pemuda cerah yang akan mendaki juga.

Sampailah kami berempat di tawangmangu. Segera saja kami mencari masjid untuk solat Ashar, menghadap Yang Maha Penyayang, yang menitipkan negeri seindah ini pada kami.

Ah, ternyata perutku lapar juga. Seusai solat kami berempat menyusuri pasar tawangmangu, mencari makanan yang bisa menahan garangnya enzim enzim perutku yang mulai memberontak. Ketemulah dengan soto dan nasi kare. Semangkuk soto dibandrol harga Rp 3000 saja, sedangkan kare seharga Rp 3500. Wah, sudah murah, enak! Tandas sudah dua mangkuk nasi kare masuk ke dalam perutku. Hahahaha.

Perjalananpun dilanjutkan menumpang colt diesel. Jalan makin menanjak dengan pemandangan yang sungguh luar biasa, di kanan kiri barisan kebun teh dan pohon cemara berwarna hijau tua. Rumah rumah penduduk yang bersusun susun berjauhan. Sedangkan di atas bukit yang jauh kabut mulai berarak turun, putih bersih, seputih hati penduduk desa yang berkemul dengan sarung di sepanjang jalan.

Maghrib menjelang ketika kami tiba di posko pendakian cemoro sewu, magetan. Suhu dingin mulai menusuk kulit. Angin bertiup cukup kencang. Memaksa kami memakai jaket tebal untuk melawan suhu dingin. Kembali kami terdampar di masjid, singgah dan kembali tunduk dihadapan-Nya.

Benar kata temanku, bahwa di gunung, orang bisa bercerita apapun, tentang dirinya, tentang segala keluh kesahnya. Bahwa manusia, dibawah kegagahan alam, akan merasa kerdil dan kemudian ceritapun mengalir. Sebelum tidur, ada sesi curhat dari temenku. Hehehehehe. Didalam warung yang hangat, ditemani secangkir kopi hitam kami berbicara dan bercerita. Ceritanya tentang apa? Rahasia dong, kekekekekekek.

Kami putuskan bahwa kami akan tidur di pos polisi. Sebuah tenda darurat yang menjadi pos polisi. Rupanya Alloh menurunkan hujan yang sangat lebat malam itu, kamipun kemudian hijrah kedalam warung karena tenda tersebut tidak kuasa menahan terpaan angin dan hujan. Didalam warung banyak pendaki nguntel kedinginan. suhu udara makin dingin.
Pagi menjelang... subuh kali ini terasa berbeda. Di kaki gunung kami solat, ah... damainya hati ini. abis sarapan, kamipun berkemas dan memulai pendakian. Di depan pintu gerbang pendakian, aku sejenak melepas pandanganku ke atas, ke puncak gunung lawu yang tertutup kabut tebal, namun masih perkasa dan berwibawa. Lalu kamipun berdoa, tertunduk khusyu’,

Ya Alloh, Engkaulah yang memberi kehidupan. Biarlah jiwaku ini kupasrahkan kepada-Mu, ingin kutumpahkan semuanya kepada-Mu, menyusuri jalan panjang ini. ya Alloh, berilah kami keselamatan.

Disinilah manusia betul betul merasa kerdil, kesombongan pasti runtuh, orang yang berkata bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan akan gentar gemetar, jatuh terserak. Kesadaran pun tumbuh, bahwa memang ternyata adalah Dia diatas segalanya.

Pendakian pun dimulai, setapak demi setapak, selangkah demi selangkah. Sesekali kami tertawa riang, bercanda, sesekali nafas kami tertahan, kemudian mengucap pujian untuk Sang Pencipta, dan bersyukur bahwa kami masih bisa menikmati keindahan alam Nusantara. Jalan cemorosewu yang sudah berbatu sedikit memudahkan kami dalam melangkah. Sesekali pula kami beristirahat dan mengumpulkan tenaga.

Sayang, di pos II salah satu teman kami tidak bisa melanjutkan perjalanan. Fisiknya belum terbiasa akan udara dingin dan tipis. Namun rombongan kami bertambah tiga orang dari solo. kami sekarang berenam melanjutkan perjalanan. Kawan kami terpaksa kami tinggal di pos II.

Jalan yang kami lalui makin menanjak dan curam. Memang jika lewat cemorosewu jalan lebih curam dan terjal dibandingkan dengan lewat cemorokandang yang lebih landai. Namun perjalanan harus diteruskan. Setapak demi setapak. Itulah yang selalu kuulang. Kami kadang berteriak teriak bagai orang gila bersahut sahutan, yang tentu saja tidak bisa kami lakukan di tengah kota.

Meskipun tubuh mulai lelah, nafas mulai terasa berat. Aku tetap melangkah, satu satu. Janganlah engkau lihat terlampau lama jalan yang sangat terjal diatasmu. Lihat saja jalan didepanmu yang hanya selangkah, selangkah, selangkah. Itulah yang membuatku tetap semangat dalam mendaki, dan mungkin juga dalam menjalani hidup. Takkan lari gunung dikejar, namun jika kamu tidak melangkah, kapan kamu akan sampai di puncak?

Sampai di pos 4 hujan mulai turun lagi dengan cukup lebat. Kembali kami merapatkan mantel hujan kami agar badan kami aman dari terpaan air. Alhamdulillah, jalan mulai berubah landai setelah sebelumnya benar benar menguras nafas dan tenaga. Kumandang adzan maghrib yang diteriakkan seorang pendaki menyambut kami di pos lima. Pos tertinggi sebelum puncak. Alhamdulillah. Segera saja kami mencari tempat untuk berteduh. Sebuah warung yang berdiri di pos lima menjadi tujuan aku dan seorang teman. Sedangkan empat orang lainnya mendirikan tenda yang memang hanya muat untuk 4 orang. Didalam warung yang hangat kami kemudian melaksanakan solat maghrib dan isya. Bersujud dan bersyukur diberikan keselamatan sampai di pos 5. Setelah makan malam kami pun terlelap kelelahan...

Aku terkejut mendengar adzan subuh berkumandang di atas gunung. Para pendaki kemudian berdiri bersaf saf menghadap Yang Maha Perkasa. Akupun larut dalam suasana khusyu sholat subuh indah di puncak gunung tersebut. Subhanalloh..

Setelah subuh usai, kami segera bersiap menuju puncak lawu. Mengejar pemandangan matahari terbit. Hadiah terindah bagi setiap pendaki gunung. Barang barang kami tinggal di tenda. Berbekal senter dan air kami kemudian berjalan menuju puncak.

Hari beranjak terang pertanda sang surya makin meninggi. Jalan ternyata cukup landai sehingga memudahkan langkah kaki kami. Pemandangan yang disuguhkan sungguh membuatku berulang kali menahan nafas, dan tek henti hentinya memuji kebesaran-Nya. Betapa tidak, jalan yang kami lalui disampingnya adalah jurang yang dalam, didepan kami ada Jalan setapak yang membelah padang rumput menghampar luas, bunga bunga indah yang masih malu malu untuk mekar, berkas cahaya mentari yang mulai mengintip di balik awan yang menghasilkan baris baris sinar yang sungguh menakjubkan. Ah, alangkah indahnya negriku ini! kupejamkan mata sejenak, dan menghirup dalam dalam udara bumi pertiwi ini...

Akhirnya, akhirnya, alhamdulillah... kami sampai ke puncak lawu. Hargo Dumilah, 3265 Mdpl.Subhanalloh. Sungguh sebuah pemandangan yang tidak terkira. Seindah inikah alamku yang kalian sia siakan? Bukankah Tuhan telah menitipkan keluarbiasaan ini kepada kita? Betapa anehnya orang yang tidak mencintai tanah ini, yang dititipkan oleh-Mu. Hamparan awan putih yang ada di bawah kaki kami bagaikan permadani, ah, seolah kau bisa berlarian diatasnya. Barisan gunung di pulau jawa yang berjajar rapi, semeru yang terlihat jauh disana, semakin memperkuat posisimu sebagai Ring Of Fire. Belum lagi ngarai ngarai terjal kehijauan,  luasnya padang rumput berwarna hijau muda, matahari yang mulai menampakkan dirinya dari balik luasnya gugusan awan putih, dan merah putih, sang dwiwarna yang tegak berkibar di puncak Hargodumilah. Guratan kekuasaan-Mu betul betul kurasakan, dan sungguh aneh orang yang tidak mempercayai keberadaan-Mu!

Puas kami menikmati pemandangan tersebut. Kamipun bergegas turun setelah sebelumnya mampir ke tempat yang katanya pamoksaan Prabu Brawijaya. Kembali ke tenda, mengisi perut. Dan turun dengan ngos ngosan mengejar teman kami di pos II. Meskipun pada akhirnya kami harus terlantar di terminal Tirtonadi karena kehabisan bis, perjalanan ini sungguh luar biasa, what a long journey! Perjalanan ini memberikanku penghayatan lebih mendalam kepada mencintai tanah airku, dan mensyukuri nikmat Tuhanku. Menyadarkanku bahwa Indonesia, bangsaku, sebegimanapun ruwet dan kusutnya, adalah tanah mutiara tempatku dilahirkan. Ia adalah tangis tawaku, putih tulangku, merah darahku, dan indung nasibku. Indonesia, ini aku, akan kuteriakkan namamu, sebagaimana namamu diteriakkan oleh para pendahuluku. Tuhanku, inilah hamba-Mu yang lemah, janganlah engkau lepaskan penjagaan-Mu terhadapku. Dan biarkanlah aku tetap menjadi hamba-Mu yang senantiasa belajar akan arti kehidupan ini, agar aku tidak lagi tersesat dalam jalan-Mu ya Alloh..

Dan akupun tertidur kembali di bus malam jurusan Solo-Semarang.

catatan lengkap liat di profil : http://www.facebook.com/abumuhammadwahyusatrio/notes

Minggu, 24 Juli 2011

Kurang lebih 1 jam serasa sehari

ketiga kalinya ane ke Merbabu,,
dua kali yang lalu tidak pernah sampe ke puncak tertinggi Merbabu, puncak Ketheng Songo dengan ketinggian sekitar 3142 mdpl.  yang pertama hanya sampai ke Puncak Syarif (tertinggi kedua) karena masalah cuaca dan cedera seseorang (lihat artikel Merbabu dan 3 orang pencari jawab). yang kedua hanya sampai di Pos IV Pemancar karena keterbatasan waktu dan cuaca juga.
maka untuk kali ini dengan tekad bulat harus sampai di Puncak Kentheng songo Merbabu. berawal dari ajakan temen sekelas, dia bersama rombongan anak2 kosnya berangkat dari Semarang. kami ketemuan di depan rumah sakit paru-paru Salatiga, langsung ke pos pendakian Cunthel. perjalanan naik cuaca cerah, sayang satu orang harus turun sendiri, karena cedera di lutut bekas kecelakaan membuat dia tdk bisa melanjutkn perjalanan.



kami berlima lalu melanjutkan perjalanan, dengan target pos III untuk camp sebelum puncak. ternyata kita smpai di pos III lebih awal, lgsung aja kita lanjut ke pos IV untuk camp. di pos IV pemancar kita bikin camp di bangunan pemancar, istirahat dan tidur. pukul 06.15 kita naik ke puncak tanpa beban, barang di tinggal di camp. akhirnya  1 jam 45 menit kita sampai di puncak Kentheng Songo,. cuaca bagus banget, di sebelah gunung Merapi terlihat sangat jelas hingga ke kawah2nya. di kejauhan lautan awan, gunung2 se Jawa Tengah terlihat puncak2nya,, wuihhhh,, puas puas puas.














kurang lebih satu jam
setelah itu kami turun ke pos IV, packing dan langsung turun gunung. di pertengahan antara pos IV dan III kita salah arah, waktu itu ane yg tau jalur berada di belakang rombongan, temen didpan salah jalur, ane juga g bgitu merhatiin jalan waktu itu. kami sadar ketika sampai di batu besar menjulang yang ada rongga yang bisa buat 3 orang masuk. ane g inget ada batu itu di jalur pendakian, kami maju lagi, jalan setapaknya sangat lebat. nah lo, kesasar,, T.T
kami lumayan panik, selain persediaan air tinggal 2 botol kecil, kalo kita naik lagi menuju jalur ke atas pasti kita kehabisan tenaga dan cairan, soalny waktu menunjukan pukul 10.30 siang, panas. setelah lihat2 keadaan, ternyata pos III terlihat di kejauhan, dengan lapangan rumputnya. akhirnya kami nekat untuk menuju pos III dengan lewat samping lembah, berupa rerumputan, dengan adanya jalan setapak kecil, jalur air dan jalan hewan untuk menuju pos III.
dengan nekat ane jalan di depan, rumput lebat, rumpun murbei yg berduri, kadang jalur air yang ada lubang, kami terjang, lewat hutan, nyari jalan hewan, pokoknya maju terus. hampir sejam kita muter lembah itu, lewat hutan lebat, cabang2 bergelimpangan, sebenernya ane juga lumayan panik, tapi sebagai yang dianggap pernah naik gunung, ane kudu tegar.. maju dan maju, yang membuat ane percaya jalan ini karena kadang kita lihat ada dahan2 pohon yang dipotong dengan alat manusia, jadi paling engga ini pernah dilalui manusia T.T
habis itu pos III pun kelihatan dan kami berteriak lega. setelah tadi di hutan juga berteriak2 barangkali ada sahutan dari rombongan lain sebagai arah tujuan.
dan setelah kurang lebih satu jam yang  serasa seharian yang panik, menguras mental, tenaga, dan ketakutan dalam diri  kami,, kami langsung turun secepat nya, ingin segera sampai, air sudah habis, dan di pos bayangan yang ada mata air kita baru merasa lega, minum sepuasnya, istirahat sepuasnya, haaaaaaaaahhh,, dan di basecamp pendakian kita pun kembali minum kopi, makan mie, menghisap asap rokok, dan lega, 
akhirnya kami mengucap syukur karena berhasil lolos dan pernah merasakan apa yang disebut ketakutan hidup dari alam yang sangat nyata,,,, T.T

quote :   
perjalanan seru merbabu : # pendaki dilarang membuat jalur sendiri >> kami tidak buat jalur sendiri, tapi kami mengikuti jalur air dan jalan binatang ( celeng dsb ) untuk kembali ke jalur yg benar. T.T,,

note: semua gambar diambil menggunakan handphone Nokia 7210 Supernova warna Pink

Selasa, 23 Februari 2010

MERBABU DAN TIGA ORANG PENCARI JAWAB
Setelah pendakian terakhirku ke gunung Ungaran, aku selalu berhadap kesempatan berikutnya untuk mendaki lagi. Hasrat ini tumbuh dan terus kubuat tumbuh ‘mumpung sih enom’ hehe. Apalagi aku didaulat menjadi ‘calon aldida 10-06’ , yang berarti calon aldida tahun 2010 no urut 6, terima kasih sebesar-besarnya buat aldida-pala, .pala jaya!
Kesempatan itu datang ketika Adhit, aldida 03 menyatakan di facebook bahwa dia akan mendampingi Dimas, aldida 04 yang sudah agak lama tidak tampil. Kata Adhit ini pendakian misi social. Kemudian aku tanya apakah ada kesempatan buatku untuk berpartisipasi? Waktu itu chating di facebook sama adhit, ternyata bisa saja. Singkat cerita ditetapkan tanggal pendakian yakni hari Minggu 25 Januari 2010 dengan tujuan Gunung Merbabu, tiga ribu seratus sekian Mdpl.
Seperti sebelumnya kami kumpul sebelum berangkat di tempat ‘Komandan’, samping masjid at Tin Kauman Salatiga. Sebenarnya, Bayu si aldida 01 mau ikut, tapi ada jadwal turnamen katanya. Sebelum berangkat kupersiapkan perbekalan , pinjam tas dari Yudha-temen sekelas (thanks Yud), dan benda2 yang ditetapkan oleh Adit untuk kubawa. Selain makanan dan minum, ada tissue, abu, selimut, kethu, dsb. Kumpul di komandan, ketemu Dimas yang udah lama tidak bersua, kami berpelukan, begitu pula dengan Adit. Dimas, sekarang badannya lebih berisi, ketiaka SMA dulu, suka main bola bareng, kini telah bekerja, menghasilkan uang sendiri, beda denganku, kuliah, masih minta uang orang tua!! Tapi itu bukan yang dibahas disini ding. Hwee
Kemudian setelah packing, berangkatlah kami dengan dua motor, Adit-Dimas boncengan, sedangkan aku dengan Astrea-Starku,ea! ke Basecamp Manggala Kopeng setelah sebelumnya beli nasi dan baterai buat kameranya Adit dulu, Kamera dalam pendakian sangat penting!! Harap diingat bagi yang ingin mendaki. Berangkat sudah hampir jam setengah 6-an sore, sedikit gerimis di jalan. Sempat berhenti sejenak di perjalanan untuk makan sebelum sampai ke basecamp. Sampai di basecamp tidak ada orang, lalu adit menelpon nomor yang ada di dinding Basecamp, kemudian datanglah sang penjaga basecamp yang terkenal itu (??). kami masukkan motor, cuci tangan-kaki-wudhu trus sholat maghrib-Isya’ jama’. Setelah itu registrasi pendakian, istirahat sejenak ,melihat2 basecamp yang bagus itu, foto-foto berjenak-jenak, packing lagi. 

Setelah merasa siap, kami berdoa sejenak, dan berangkat! Waktu sekitar pukul 8 malam. Kami langsung memakai mantel untuk mengantisipasi hujan yang mungkin datang tiba-iba. Menembus malam, perjalanan dimulai setelah sedikit rumah penduduk, kemudian ladang penduduk. Di sini jalan sudah menanjak, dan seperti biasa, tubuh masih belum teradapatasi, sehingga napas langsung memburu. Setelah itu masuk ke area hutan dengan rerumputan. Jalanan setapak itu selalu menanjak ! nafas lama kelamaan pun mulai stabil, otot mulai mengencang kuat , akan tetapi, perjalanan kami termasuk lambat. Tapi enggak apa2, soalnya pendakian kudu dinikmati ( ngeles ).
Perjalanan yang cukup panjang itu diselingi berberapa kali pemberhentian kecil untuk mengambil nafas, setelah kira2 satu jam-an, kami bertemu dengan sumber air, berupa bak penampungan kecil, dingin tentunya, cuci kaki dan isi botol. Sembari berhenti2 dan ngobrol, sempat juga menengok ke belakan untuk melihat lampu kota di kejauhan, indah, tenang, dan sejuk. Dan kemudian bertemulah kami dengan pos bayangan satu berupa bangunan atap tanpa dinding. Kami memutuskan tidak berhenti di situ karena telah berhenti di sumber air tadi. Perjalanan diwarnai semak di kanan kiri jalan setapak, terus menanjak.
Kemudian, perjalanan tetap seperti itu, terus menanjak, diselingi istirahat2 kecil, menarik nafas dan meregangkan otot, melampaui pos bayangan II dan sampai di pos I. berhenti sejenak, dan terus melanjutkan perjalanan. Perjalanan diwarnai dengan rasa kantuk yang menyerangku, ngantuk sambil berjalan dan berusaha bertahan. Dengan bantuan permen, ngantuk pun hilang, perlu dicatat, permenya adalah ‘Blaster” yang belang, emang lebih enak!! Iklan! Mendekati pos dua, gantian Dimas yang ngantuk dan kelelahan, kami sempat melenceng jalur sedikit sebelum sampai ke pos II, walaupun alhamdulillah kami sampai di Pos II. Dengan ngantuknya Dimas dan kelelahan semuanya, kami memutuskan untuk nge-camp di pos II ini. Mendirikan tenda, Adit masak mie, aku dan Dimas foto2 di dalem tenda. Jahat..


Setelah makan , minum, menghangatkan diri, entah siapa yang memulai, diadakanlah acara curhat . Pertama, Dimas. Cukup lama, kemudian disusul Adit. Saat Adit curhat, Dimas yang sudah ngantuk berat tertidur, akulah yang kemudian mendengarkan curhatan Adit, tapi akupun KO! Saat Adit masih ngomong, ternyata aku tertidur juga,.sori Dhit,hwee. Tapi, aku, kapan curhatnya dong??! G penting ah.hehehe. Kami sampai di Pos II itu sekitar jam 11 malem, dan mulai tidur jam 3an dinihari.
Paginya, udara sangat dingin, adit teriak2 di luar tenda, aku dan dimas ‘njingkrung’ di tenda. Saat akhirnya pada keluar tenda, kami membahas perjalanan dan termin curhat tadi malem, berkeliling sekitar tenda,foto2, masak air, bikin milo anget, masukkan roti tawar ke dalam milo tersebut dan itulah sarapan. Sambil tetap membahas permasalahan curhat,kami packing untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan setelah pos dua indah, di kanan jalan ada lembah berikut tebing yang indah. Kemudian disusul hutan indah berumput indah berbunga indah. Foto2 tentunya, jalur ini agak mendatar. Dan kami menemukan apa yang disebut arbei, kecil, kecut kalo udah mateng manis kalo mateng ( ya laah ), dan berarti jg aku mateng ya (???!!!!!!) . berikut foto2nya


Kami sempat khilaf dengan terus mencari arbei, dikumpulkan di botol, hingga adit mengingatkan kami bahwa perjalanan masih panjang. Hehehe. Sori dit, Setelah hutan, rumput , dan arbei indah itu, jalan menanjak lagi, menembus hutan dan sampailah kami di pos III camping ground, berupa dataran rumput yang cukup luas. Dan tak lupa pun kami berfoto-foto, dimas foto dengan telanjang…dada.


Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan kembali. Perjalanan melalui hamparan rumput di kiri kanan jalan setapak yang selalu menanjak, tanpa pernah enggan menurun, hehehe..namanya juga gunung. Di sini, kabut menyertai perjalanan kami. Sebagai yang berjalan di belakang sendiri, aku masih mencari dan memetik arbei2 di sepanjang jalan, hehehe. Di sini juga terlihat tanggul-tanggul pohon bekas menghitam bekas kebakaran hutan entah kapan. Di sini pula kami sempat beristirahat yang kemudian diisi acara ngemil roti dan tic tac serta minum. Di sini tubuh kami tidak terlalu gampang lelah seperti ketika memulai perjalanan tadi malam.

Kemudian setelah melewati itu, kami dihadapkan sedikit jalan tanah jalur aliran air dengan bebatuan besar dan kecil. Jalannya murni tanah, lebih dari 50 derajat, g bisa bayanngin kalo hujan licinnya kayak apa. Dan setelah itu, akhirnya kami sampai di pos IV pemancar , berupa tower dan bangunan kotak yang dalamnya tidak berisi apa2 tapi sangat kotor. Katanya pemancar ini milik TNI, menarik, tapi sepertinya tidak terpakai dan terawatt. Jadi ingat film Lord of The Rings yang memakai alat komunikasi berupa obor api besar dari tumpukan kayu di puncak2 gunung yang menghubungkan Rohan dan……… film yang bagus.
Di pos IV kami lagi2 masak mie, dan lagi2 adit yang masak. Adit juga mencoba cara baru menggunakan api dari abu dan spirtus yang dituang di sebuah kaleng kecil. Api yang dihasilkan bagus juga. Setelah itu kami makan, dan tak lupa foto2. pemandangan di pos IV ini sungguh menakjubkan. Puncak Syarif dari sini kelihatan. Lalu lembah2 besar di kiri dan kanan, menurun, menghampar , besar dan hijau, halus rerumputannya, merayap naik hingga puncak, masyaAllah. Di situ juga ada batu2 besar, bisa buat berbaring dan menikmati pemandangan yang tak pernah membosankan untuk dipandang.





Setelah makan, kami istirahat sejenak di batu2 besar yang bisa untuk berbaring, menikmati hembusan angin yang sejuk dan hangatnya matahari. Di sini, kami sempat bernyanyi ria, sambil tetap berbaring di batu, dan direkam dengan kamera. Wah, memang kamera itu sangat penting bagi pendakian! Setelah itu kami merencanakan untuk segera menaklukkan puncak. Yang kami tuju kali ini adalah puncak Syarief, puncak tertinggi kedua gunung merbabu setelah puncak Kenteng Songo. Kami memutuskan menaruh tas untuk ditinggalkan di pos IV saja dan membawa botol air serta tas pinggang kecil untuk menaklukkan Syarief.
Ternyata perjalanan tak selama yang kami duga. Kami melalui jalan setapak indah yang di kiri kananya sudah berupa punngung lembah. Meliuk-liuk. Lalu kami melewati bagian atas kawah dan mencium bau belerang. Setelah itu, naik bukit kecil berbatu, melewati jalan air, dan jalan setapak indah lagi. Kemudian juga melalui apa yang disebut devil bridge-jembatan setan, berupa jalan setapak yang dikiri kananya jurang lembah dengan angin berhembus. Naik lagi, bukit batu dan sampai di pertigaan, jalan antara rute ke puncak Syarif dan satunya lagi rute ke puncak Kenteng Songo. Di sini kami beristirahat sejenak. Dan adit kembali melaporkan diri kepada rekaman kamera, begitu pula kami untuk memberitahukan posisi kami.


Setelah memantapkan tekad, kami langsung belok kiri di pertigaan itu menuju puncak Syarief. Kami berjalan, lebih tepatnya mendaki dan memanjat dengan kecepatan tinggi. Karena medan berupa batu2 karang menanjak tinggi lebih dari 60 derajat mungkin. Tapi yang mengherankan, ternyata jarak pertigaan tadi dengan puncak Syarif dapat ditempuh kurang dari 10 menit, malah kami mengira kami baru berjalan 5 menitan. Dan akhirnya…..puncak Syarief dapat dicapai!!!sukses!!selamat!!!!alhamdulillah

Di puncak Syarif kami saling memberi ucapan selamat. Lalu berkeliling puncak tersebut karena cukup luas mendatar. Kabut atau awan di bawah kami berjalan cepat, sunyi , hanya ada 3 pendaki. Lalu, Dimas melakukan teriakannya yang bertema sama dengan tema dia saat curhat, hehehe. Lalu, aku, teriak aaaaaaaaaaaaa dua kali. Satu untuku dan satu lagi titipan calon aldida-pala 07 yang tidak bisa hadir. Setelah itu, kami berpisah, maksudnya menyendiri sejenak, untuk merenung. Aku, menatap ke bawah, ke punggung lembah yang ditutupi rumput yang seolah mengajak kita meluncur diatasnya. Merenung sejenak akan kisah hidupku. Dan,… ah,…tak perlulah kusebutkann di sini,hehehe…
Foto puncak : 
Setelah beberapa waktu di puncak, mungkin sekitar setengah jam, kami memutuskan untuk turun. Langsung menuju ke pos IV dimana kami meninggalkan tas. Kami langsung packing kembali, mengumpulkan sampah kami, berdoa sejenak, dan meluncur turun. Kami turun dengan kecepatan biasa, normal. Perjalanan turun dari pos IV ditemani oleh kabut. Dan tak lama kemudian gerimis menyusul menemani kami. Terjadi insiden kecil, Dimas terlepeset dan engkelnya yang memang sudah cedera sebelumnya kembali sakit. Setelah memakai mantel, kami berjalan pelan, pelan dan diam. Kabut, gerimis, membuat suasana hutan nan elok, sunyi, sepi, hutan seperti di film2 fiksi ilmiah. Ahhh, tak tergambarkan. Ada kesan misteri, dingin, dan menantang, tapi tetep indah.
Kembali melewati hutan arbei lagi. Dan kami sampai di pos III dan istirahat sejenak. Kami langsung melanjutkan perjalanan turun, sampai di pos II, mengambil sampah yang ditinggalkan tadi pagi, dan langsung turun kembali. Hujan gerimis menemani kami, kami diam, larut dalam pikiran masing2. kami berjalan pelan akibat cederanya Dimas, dan kakiku sendiri juga agak sakit akibat basket tanpa pemansan, tapi alhamdulillah tidak begitu parah namun cukup mengganggu. Perjalanan menuju pos I terasa sangat jauh dan melelahkan. Ini mungkin akibat juga akumulasi dari rasa lelah, dingin, dan suasana yang sepi sekali. Adit dan Dimas beberapa kali terpeleset dan jatuh , tapi alhamdulillah aku cukup sigap untuk tidak terjatuh. Dan memang jalan turun licin karena hujan.
Kami hampir ragu juga mengenai rute turun kami setelah beberapa waktu melewati pos dua. Tapi lalu kami meyakinkan diri bahwa kami benar. Karena lambatnya perjalanan kami, takterasa sudah memasuki waktu maghrib, dan adzan sudah terdengar dari sini walaupun perjalanan masih jauh. Di sini si Dimas mulai ‘kemrungsung’ karena besok hari dia harus kerja dan Adit juga berencana ke Semarang. Dengan sok bijak aku minta Dimas untuk rileks dan santai, kita akan sampai, untuk tidak ‘kemrungsung’. Untungnya tak lama kemudian kelihatanlah pos I dan kami langsung berjalan melewatinya. Untungnya juga aku masih membawa potongan coklat yang kubagi secuil demi secuil ketika kami berhenti menarik nafas. Coklat cukup menenangkan syaraf yang menjerit kelelahan dan emosi yang panic akibat tekanan keadaan (halah!!)
Kami pun akhirnya melewati pos bayangan I dan II. Dan sampai di mata air. Di sini kubagi lagi cuilan2 coklat terakhir. Kami memutuskan memakai senter karena mulai gelap. Di sini malah kami mulai terlibat obrolan tentang tema curhat tadi malam, mungkin sudah pada rileks kembali, jadi bisa ngobrol. Di sini kami mendiskusikan jawaban akhir dari pertanyaan diri kami masing2 yang kami bawa ke puncak gunung dan sempat dinyatakan dalam sesi curhat. Dimas menemukan jawabannya, Adit sebagian besar sudah, nampaknya dia lega karena sudah curhat. Sedangkan aku, malah menemukan pertanyaan baru,hwehehehe. Biarlah, tapi lumayan.
Setelah hutan kemudian ladang penduduk, kami terseok2 menggunakan sisa2 tenaga kami, dingin, capek, pegel, tapi kami tetap bersemangat mentuntaskan hal ini. Dan akhirnya kami sampai kembali di basecamp dengan semangat, pukul 19.30 malam, 24 jam persis seperti kami berangkat. Di basecamp kami membersihkan diri, masak dan makan ( mie lagi ),, upacara penutupan dan langsung pulang kerumah, alhamdulillah, dengan selamat ( walaupun aku terpeleset karena ban belakang motorku dan aus ).
Kami berhasil menaklukkan puncak Syarief tanggal 26 Januari dimusim hujan, dimana kami satu2nya tim yang naik waktu itu, tim yang nekat. Dengan membawa pertanyaan keatas gunung unntuk dicurhatkan dan dicari jawabannya ( bukan nyari wangsit lo). Dan berhasil!!!! Pala jaya!!!

Senin, 22 Februari 2010

first action


UNGARAN PART #1
Keinginan untuk naik gunung sudah ada sejak lama. Pas sma belum boleh sama bapake sama ibue. Pas kuliah!!! Akhirnya terwujud ketika semester ketiga kuliah. Begini ceritanya…
Pas liburan semester, keinginan tuk naik gunung muncul kembali. Lalu, singkatnya, kuajak temen2 sma dulu yang memungkinkan untuk diajak lewat sms. Kemudian, ringkasnya, hanya ada seorang sohib sma yang menyanggupi menemani perjalanan ini… kukenalkan, dia Wasis, sohib dari kelas 1 sma dulu, suka baca komik sepertiku, sampe pernah kita dua kali kepergok baca komik pas pelajaran fisika..bayangpun!!! komiknya disita deh,.kami patungan ganti ke persewaan. Lalu kami sama2 sering futsal, basket, hampir setiap hari. Sama2 ikut rohis ( SKI Smannsa ) walaupun Cuma penggembira, sama2 terjun dalam dunia beladiri tekwondo,.. bisa dibilang kami sahabat dekat yang seia sekata sehuruf dan sekalimat..
Lalu, pendeknya,.dia nekat menemani naik ke ungaran pertama kalinya bagiku dan baginya, walaupun dia harus berbohong main ke rumah temen. Bayangkan kondisi kami pertama kali naik : tanpa seorang yang berpengalaman menemani, peralatan pun dikira2 seadanya..aku bawa terpal yang biasa buat hajat untuk tenda ( Bayang wah !!! ) senter, makanan2 Cuma berupa roti tawar,selai, gulakacang,air minum, tanpa alat masak semuanya berdasarkan insting kami, intuisi.. wasis malah Cuma bawa roti dua bungkus, air, garam ( buat nyegah ular di tenda ktanya ( whats?? ) , wasis juga pakenya sandal kulit kondangan, dia juga tdak bawa senter malah… betapa hijaunya kami dan nekatnya kami kala itu,..
Lalu, kami janjian ketemu di ambarawa, daerah Polin ( nama tempat berhenti kalo naik angkutan, diambil dari toko roti Paulline ). Rencananya kita muncak via bandungan. Lalu kami naik angkutan ke pasar bandungan dengan tariff 2500. berbekal sedikit info dari teman yang pernah naik gunung, bila kami sampe pasar bandungan, untuk arah pendakian kami disuruh tanya orang ( sama aja!!). lalu, kami muter2 pasar, dan bertanya pada orang lalu ditunjuukkanlah arah kalau mau naik ke puncak. Pas muter2 aku sempet mau cari masjid tuk pipis, lalu nemu masjid di area ‘itu’,.tau kan,..malah ditanyai bapak2 depan karoke segala, padahal Cuma numpang pipis…huhuhu.
Waktu itu jam2 habis dhuhur akhirnya kami berangkat menuju ke arah yang diberikan penjual es (??). kami melewati rumah-rumah penduduk dengan jalan yang menanjak. Belum apa2 tungkai kami sudah lemes, dan kami banyak berhenti. Lalu,.berlalulah rumah-rumah penduduk, dan digantikan oleh kebun-kebun yang kemudian disusul oleh ladang-ladang. Kami berjalan pelan, menikmati setiap helaian pengalaman baru mendaki pertama kali. Kami melewati ladang wortel yang habis dipanen. Tapi aku melihat masih ada sisa-sisa wortel kecil, kucoba mencabut dan kuusap tanah yang gembur itu, lalu langsung kugigit, masya Allah, segar, manis, renyah dan enak. Tak kusangka wortel bisa seenak itu dimakan mentah..wasis pun mencobanya dan dia merasakan hal yang sama. Wortel itu bukan seperti yang selama ini beredar di rumah-rumah kita. Hebat! Ndeso!!!
Di samping ladang itu, ada jurang yang diseberangnya ada tebing batu yang besar, kami pun menyempatkan berhenti sejenak, duduk, masih sambil ngemil wortel, untuk melihat tebing besar itu,.pengalaman baru lagi.. lalu kami melanjutkan perjalanan melalui jalan setapak yang terus naik dan naik , tanpa ada bonus jalan turun sedikitpun. Dan kemudian kami agak terkejut ketika kami bertemu dengan jalanan berplester semen yang bahkan bisa dilalui mobil. Lalu kami menyusuri jalanan plesteran tsb, yang dibeberapa bagian begitu curam lebih dari 50 derajat lebih yang melemaskan tungkai-tungkai kami. Dan kami tambah dikejutkan bahwa kami baru saja sampai di basecamp Mawar pendakian ungaran. Waktu itu sekitar jam2 ashar. Oh, betapa hijaunya kami, padahal kami kira kami sudah cukup jauh menapaki jalan menuju puncak, eh ternyata baru sampai basecamp untuk memulai pendakian..huhuhu
Lalu kami istirahat sejenak di basecamp, buang hajat di kamar mandi basecamp yang airnya mengalir terus tanpa peduli bulanan PAMnya, sholat ashar di mushola kecil, mempersiapkan hati dan tekad. Setelah itu kami mendaftar untuk pendakian, atas namaku, no hpku dan bayar 2000 rupiah. Lalu kamipun berjalan meneruskan perjalanan dalam ketidaktahuan yang kami terjang.( hahah!!)
Perjalanan setelah basecamp diwarnai dengan adanya hutan berdaun jarum,pinus dan semisalnya, dengan rumput-rumput di bawahnya..indah, seperti di wallpaper2, atau di film2, tenang, damai, sejuk, udara segar tanpa timbal peroksida dan CO. wuih,. Bersyukurlah pada Yang Kuasa!! Jalanan di sini menanjak terus, sampai tungkai amatir kami kembali lemas, dan kami pun duduk, dan ketika duduk, kami membalikkan badan dan WOOW, pemandangan di bawah yang terdiri dari wilayah rawa pening yang terlihat sangat indah, lembah yang diisi kota salatiga, dan sekitarnya, gunung2 yang mengelilingi di kejauhan yang menunggu tuk ditaklukkan..subhanallah.. kami terpaku sejenak..oh…indahnya..indahnya…aaaaaaaaaaaaaa…
Kemudian lagi-lagi kami dikejutkan dengan pertemuan dengan wanita2 perkasa umur 60an yang menggendong kayu bakar seikat yang lebih berat dari tas2 pendakian kami,..masyaAllah…dan kami pun melanjutkan perjalanan, dengan jalan mendatar memutari bukit2, melalui kali kecil yang airnya segar bisa langsung diminum, tanpa 9 kali proses penyaringan satupun..kemudian kami bertemu dengan kebun kopi,.melaluinya dan ketika waktu maghrib kamisampai di kebun teh , di pertigaan antara kebun kopi, kebun the-perumnas, dan jalan ke puncak.
Kami memeutuskan berkemah di situ, mendirikan kemah dengan seadanya, kami hanya menyandarkan kayu temuan di tanah yang berjenjang, dan terpal disandarkan diatasnya . bisa dibayangkan seperti ini..
Betapa sederhanya,dan betapa oh betapa… di situ kami menikmati senja di kebun teh,,. Yang indah dan indah..uuhhhh. lalu kami sholat maghrb sekalian jama isya dan berencana muncak nanti sekitar tengah malam, yang kami putuskan dengan intuisi, karena katanya waktu yang tepat untuk ke puncak adalah malam hari. Kami makan roti dingin saja dan tidur dengan otot 2 amatir yang mulai pegal dan ‘njarem’.
Kutidur di tenda kenangan itu dengan tidak nyenyak, dan mendengar beberapa tim lain melewati kami, ternyata ramai juga. Tidur dengan tanpa matras, dingin, tanpa makan sesuatupun yang hangat, udara pegunungan menusuk kami, tanpa bisa dihalangi oleh tenda yang tak bersalah itu. Pengalaman..
Sejam sebelum tengah malam, kami bangun kemudian packing, kemudian mulai menuju puncak! Melewati beberapa tenda tim lain dan Kebun teh yang kemudian digantikan semak perdu, menanjak, gelap. Kami hanya bawa satu senter, aku yang di depan menyorotkan lampu ke bawah, bukan ke depan. Naik dan naik, hutan, semak di kiri dan kanan, jalan terjal di depan. Keringat kami mengalir deras, diselingi beberapa kali istirahat. Minum air putih dan makan gula kacang penambah stamina. Kami berjalan dalam diam, tetapi kami juga beberapa kali mendiskusikan beberapa hal.
Ada segi positif dari ketidaktahuan kami, yakni kami tetap selalu semangat maju walaupun tidak tahu dimana ujungnya. Kami sempat berhenti di suatu tempat yang ada tenda berdiri milik tim lain. Kami kira telah sampai puncak. Eh ternyata belum. Setelah bagian itu, muncul bagian berbatu dan tanaman rumput. Di situ mulai turun kabut, kami sudah capek sekali kala itu. Dengan sedikit takut akan kabut yang bisa menghambat kami, kami memutuskan untuk istirahat tidur tanpa tenda hanya dengan sarung di bawah batu. Dan dinginnya! masyaAllah, menghabiskan suhu kami, kami nekat, walaupun masih ditambah angina yang berhembus kencang. Kami tidur dengan kaku dan posisi yang menyakitkan.
Setelah satu jam lebih mungkin, kami memutuskan untuk berjalan kembali , dengan tubuh dan stamina amatir kami, yang membuat kami terus berjalan adalah semangat dan tekad untuk menaklukan ketidaktahuan,.(hahaha!!) kami melalui bagian rumput dan bebatuan tersebut, sedikit hutan lagi, dalam gelap, tanpa takut salah jalur, tapi kami maju terus, entah jalurnya benar, hanya intusi dan logika sederhana : jalur ke puncak yang jalannya naik!! Itu pasti! Hehehe. Kemudian dini hari sekitar jam setengah empat kami nampaknya sampai apa yang disebut puncak ungaran. Soalnya, banyak tenda dan jalan naiknya habis. Dan kami pun saling memberi selamat atas kenekatan ini!! Keberhasilan ini, wah, rasanya!!tak terlukiskan!! Kita tertawa dan terus mendiskusikan keberhasilan menembus ketidaktahuan ini. Nekat dan berani dan hanya tekad!!!
Perjalanan tersebut menguras tenaga dan sungguh mendebarkan, hebat, wuih, menantang. Setelah sampai dipuncak, kami pun membuat tenda sederhana kami lagi hanya dengan menyampirkan terpal di atas tugu monumen kecil yang menandakan puncak ungaran, menggelar tikar, dan membaringkan diri sejenak menunggu sun rise. Ketika menjelang sun rise, tim lain, mulai pada bangun dan kami ikut menanti.. cuaca cerah memberikan kami pemandangan sunrise yang takkan pernah hilang dalam bayangan benak kami, terpatri kuat dalam lokus otak kami. Hanya dengan memejamkan mata pun aku masih dapat membuka ingatan pemandangan sunrise pertamaku di puncak ungaran dengan sahabat yang tak tergantikan. Bola cahaya kuning itu, bulat sempurna, sinarnya seperti bergerak , muncul perlahan dari lautan awan, wuiih, hebat, great.,!sangar, indah, eksotis, menakjubkan, subhanallah!!! Kami terpaku pada detik-detik kemunculan sang pemberi energi bagi bumi, karya ciptaanNya yang Maha Agung,yang Maha Sempurna. Berbagai perasaan dan semuanya tumpah ruah. Akan kuingat ini sampai kapanpun. Bersamamu teman !!!
Setelah itu, puncak pun ramai, ada yang nyetel mini compo lalu melantunkan lagu changcuter dan pada ramai2 joget walaupun tidak saling kenal dan walaupun juga kami tidak berpartisipsi. Kami berdua hanya memandang semua yang tampak gelap malam kami menghabiskan stamina otot kami. Makan roti tawar selai dingin,minum air dingin dan berbincang. Euuuuuuhhh!! Sekitar pukul delapan pagi kami memutuskan turun. Yang ternyata perjalan turun pun cukup berat bagi amatir, kaki lecet, panas dan tubuh yang letih, tapi tetap tak menyurutkan langkah karena kami telah berhasil melakukannya!!! Perjalanan turun benar2 seperti perjalanan pulang setelah perang, setapak demi setapak mencari sisa energi yang tersimpan dalam tubuh. Dan alhamdulillah sampai juga di pasar bandungan lagi, naik bis dan kami pisah di ambarawa. Dan pulang….
Untuk sohibku Wasis,. Kapan kita mengulang pengalaman itu lagi. Bila kau baca ini, ku berharap kita kan punya kisah untuk kita bicarakan ketika kita renta besok, sebuah kisah klasik yang akan kita kenang, kita bahas dan tertawakan disaat rambut kita putih, gigi palsu dan mungkin dengan cucu kita dipangkuan yang dengan mata kecilnya berbinar mendengarkan kegagahan kakeknya di masa muda. Untuk sahabatku semuanya,. Mari merangkai kisah kita untuk kita kenang di masa itu!!!!!!!!! Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ..