Tampilkan postingan dengan label Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 April 2014

YOGYAKARTA - LANGGAR KH. AHMAD DAHLAN



    .... Tuhan aku berjalan
     .............Menyusuri malam
      .......................Setelah patah hatiku
  
       -Juli, 2012 - Yogyakarta-

Soundtrack Sheila on 7 bergema di kepala sembari menyusuri sorenya Malioboro. Dan lagi, Jogja kembali berkontribusi dalam pendamaian hati. Sudah lama sebenarnya, sekarang ane sudah kerja di Jakarta, tapi sepertinya sih barusan kemaren. Hanya waktu yang terlalu cepat melintas.

Tanggal lagu tersebut menggema di kepala sore itu sebenarnya tidak ada niatan untuk travelling ke Jogja. Tapi saat itu masa-masa cari kerja, test-test dan interview yang ane jalani, hampir tiap minggu antara Semarang- Jogjakarta, tapi sembari mencari pekerjaan, tak ada salahnya untuk meresapi Jogja sembari berdamai dengan diri.

Berangkat naik motor dari kota kecil Salatiga, ijin ortu untuk test di sebuah perusahaan, ane bahkan tidak memikirkan test apa atau di perusahaan apa, yang jelas langsung ke Malioboro Jogja, cari penginapan dulu, yang murah di gang gang Malioboro, akhirnya ane dapet yang 75 rb, seperti kamar kost-an. Habis itu mandi dan istirahat dulu.

Sebelum terlalu siang ane putuskan jalan-jalan untuk menemukan peninggalan sejarah ada di kampung Kauman, yakni Mushola KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Motor ane tinggalin aja di penginapan, lebih asoy jalan kaki biar keringat bisa keluar sekalian kenangannya mungkin, (-__-").

Jalan pun dimulai, keluar ke jalan Sosrowidjayan, ke kanan ke arah keraton, seperti biasa Malioboro penuh wisatawan lokal maupun asing. Walau sudah keseringan ke sini ya tetep saja suasana Jogja beda lah pokoknya. Di satu sudut ada band yang perform pakai angklung, rame dikerumuni orang-orang yang nonton, keren juga mainnya, harus dijepret lah.


Banyak wisatawan yang menonton perform ini, bahkan sampai 2 lagu pun tak beranjak. Terutama wisman yang mungkin baru lihat alat musik bambu kita, angklung. Nice, ane pun setelah lihat 2 lagu, masukin dua ribuan ke kotak sebagai tanda apresiasi, melanjutkan perjalanan.


Sampai ke perempatan BNI ane belok kanan, karena sebelumnya ane sudah melakukan sedikir riset mengenai lokasi Mushola KH. Ahmad Dahlan ini. Dengan bantuan google.maps ane sudah menyiapkan rute jalan kaki ane. Bila dari arah malioboro di perempatan BNI kita ambil kanan ke Jl. KH. Ahmad Dahlan, tak jauh di sisi kiri jalan ada kampung Kauman. Benar juga, tak jauh, 100 meter dari perempatan BNI ane menemukan gerbang Kampung Iman, atau Kauman.



Setelah itu kita akan bertemu gang-gang khas pemukiman padat penduduk kota, tapi suasana di sini jauh dari pemukiman padat yang panas, bising, kumuh, apalagi membakar jiwa, justru kita bertemu dengan pemukiman tenang,bersih tertata, adem ayem kata orang Jawa. Iya lah, pemukimannya aja deket sama keraton Jogja ini.

Just enter Kauman Gate

Kampung Iman menjelang sore, Lampu bulat menyala


Tugu peringatan Syuhada,
ane kurang tau dalam perang apa, harus cari tau
 Setelah melawati jalan dalam gang Kauman, bertemulah  dengan penunjuk jalan ke arah Langgar KH Ahmad Dahlan. Langgar adalah bahasa jawa yang bisa diartikan sebagai mushola, dimana di tempat itu syiar agama mulai sholat, pengajian dsb dilakukan di tempat itu. Berbeda dengan masjid, Langgar skalanya lebih kecil dari masjid, misal dari jumlah jamaah maupun ibadahnya. Di Langgar, umat Islam tidak dapat menjalankan sholat Jumat, karena selain tidak ada mimbar juga jumlah jamaah yang ditampung tidak bisa sebanyak minimal 40 orang untuk sholat Jumat.



Perjalanan ke arah yang benar :)

Belok kanan, gang kecil,  its true way? hmm 

Ane ikutin itu petunjuk, masuk gang seukuran satu sepeda motor ini, dengan tembok dan jalan semen yang usianya seabad mungkin, lumutnya yang mengering karena panas siang, serasa melalui gerbang mistis tersendiri, suasana yang sepi, tentram, dan pertanyaan, kok ga ada wisatawan lain ya? ane sendirian atau orang emang jarang yang berniat ziarah ke sini mungkin. Di ujung gang belok kiri, ane ketemu dengan rombongan ibu-ibu yang habis pengajian nampaknya. Ibu-ibu yang mengenakan kerudung-kerudung putih menandakan adanya kehidupan di sini (habis dari tadi ga ketemu orang).

Melihat kesahajaan ibu-ibu pengajian di sore hari di Kauman Jogjakarta ini membuat sendu dalam arti yang tersendiri. Dengan sedikit cengar-cengir ane sapa para ibu tersebut, dan rombongan itu pun heran nampaknya, dengan kehadiran anak muda berkaos biru, celana jins, sendal gunung, tas selempang kulit dan kamera digital di tangan.

 "Cari apa mas?" celetuk salah seorang di antaranya.
 "Ini bu, saya pengen lihat Langgar KH Ahmad Dahlan" ane jawab.
"Oooohh". koor jamaah pengajian "di situ mas, udah deket. Kok sendirian mas?" tanya salah seorang lagi.
Ane (dalam hati) "Iya sendirian, soalnya dia udah ga bisa sama saya lagi bu".
(dalam hati lagi) "Salah ya bu sendirian? saya juga pengennya ga sendirian bu, tapi hati kan ga bisa dipaksa bu".
(dalam hati juga) "Aku rapopo" waktu itu belum populer sih jargon ini.
#ngookkk, yang bener
Ane, "iya bu, sendirian aja, ke arah situ ya bu, makasih ya bu"
Ibu2 zaman sekarang pertanyaannya  aneh2 deh , padahal ane orangnya ga sensitif (lho). Makanya ane langsung melipir wkwk.

Dan benar juga, belok kiri sedikit terlihatlah jeng jeeenngg:


Langgar KH Ahmad Dahlan

Subhanallah, ketemu juga. Langgar dua tingkat tempat KH Ahmad Dahlan mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya. Saksi diam perjuangan beliau, langgar yang pernah dirobohkan oleh musuh politiknya yang tidak suka karena ajaran beliau. Sampai sekarang Langgar masih berdiri dengan bangunan semen, bila dulunya adalah dari kayu. Bentuknya mirip yang digambarkan dalam film Sang Pencerah. Sejenak ane meresapi tampilan bangunan ini setelah ane ambil fotonya,dalam sore sepi menghanyutkan di kawasan kampung Iman ini.

Bangunan tersebut terdiri dari dua laintai, lantai pertama difungsikan sekarang ini sebagai tempat belajar (TPA) sepertinya, yang di atas adalah tempat ibadah. Berikut penampakannya gan,

Tempat wudhu dan tangga

lantai 2 , ruang Sholat

lantai 2 bilik Imam
tangga

lantai 2, plafon Gedeg (anyaman bambu)



Sayang ane tidak dapat mengakses ke lantai 1, barangkali ada buku atau foto atau apapun yang merekam perjalan hidup beliau memperjuangkan apa yang beliau yakini saat itu. Karena saat ane di situ ane tidak bertemu siapapun, seseorang pun, memang waktu itu sore hari yang banyak orang melewatkan waktu di rumah bersama orang-orang yang mereka sayangi. Bukan ane yang malah nglayapan sendirian :p

Waktu semakin sore, sebentar saja ane menyesapi spirit KH Ahmad Dahlan yang kiranya menginspirasi beliau kala itu. Ane lanjut menyusuri gang-gang Kauman itu, menurut peta google, kompleks kauman berdekatan dengan masjid Agung keraton, pakai insting aja ane ambil arah cari-cari jalan dan alhamdulillah memang benar adanya. Ane ketemu lewat gang belakang masjid.


gerbang belakang

Masjid tampak belakang

sore-sore tampak depan
Sore pun menjelang,ane pun harus berhenti sejenak untuk pergantian hari itu. Capek juga jalan sebenernya haha.

Setelah melewati pergantian masa, ane menuju ke alun-alun selatan saja untuk menemani malam ah. Lanjut, dari masjid kan depannya langsung alun2 utara, nyebrang, lewat plengkung wijilan, lewat depan gudeg wijilan yang langganan ibu ane dulu pas sekolah (ibu ane sekolahnya di komplek Kauman Jogja). Dan langsung menuju alun-alun Kidul (selatan) keraton Jogjakarta.




       
  

Malam itu, alun - alun selatan memang tidak ramai, karena bukan weekend atau hari libur, cenderung sepi, jadi ane sebentar saja di sana. Sebenarnya ingin cari kuliner di alun-alun selatan tapi entah kenapa tidak ada hasrat. Ane putuskan untuk balik aja ke penginapan, melewati malam malioboro. Karena lapar, ane cari angkringan di jalan menuju penginapan, menemukan satu, yang nasinya tinggal sedikit, laku sepertinya. Dua nasi, beberapa gorengan, sate usus, teh manis panas, srrupuut ahh.. menutup perjalanan.

Test besok? ya bagaimana besok.


Sedang mengumpulkan semangat, 
banyak yang belum ditulis, 
setelah hampir 2 tahun, 
Jakarta, 13 April 20114
@dwi_choeystone

Selasa, 16 Oktober 2012

males ngasih judul

Adalah aku di sebuah ruang bertamu, yang nampak bukan rumahnya, tapi ia dan keluarganya hadir disana. Yang paling aku ingat hadir juga mamaknya.

Bukan aku saja, nampak ramai kawan dan handai taulan meriakan suasana, yang wajahnya tak kuingat tapi aku merasa mengenal semuanya.

Kemudian ia pamit hendak main bersama kakak dan entah siapa, berjumlah empat orang. Sebelum keluar ia hendak mengambil sesuatu barang di sebelah tempat dudukku. Kuulurkan barang itu tanpa berani kutatap wajahnya. Begitupun ia, tak acuhkan barang secuil wajahnya kepadaku.

Dan kembali ruang tamu seperti biasanya penuh dengan tamu, yang samar kuingat

Kemudian ia kembali dari permainannya, duduk di sebelah kanan jauhku

Waktunya aku dan lainnya menyudahi pertamuan ini. 

Hendaklah ketika aku pamit, terlihatlah sepasang kaki dari wajahku yang menunduk sedari tadi. Tanpa mendongak pun aku tahu sepasang kaki itu sama dengan pemilik hati dan senyuman itu. Menggangguku, baik ketika sadarku atau tidakku.

Tanpa berani kutatap garis wajahnya, yang masih sangat lekat dalam ingatan fotografisku. Hanya kusambut tangannya yang terulur. Kutangkupkan kedua tanganku menyambut uluran tangannya sebagai alamat perijinan pamitku.

Keluarlah aku bersama rombongan. Hingga setelah gerbang depan rumah, aku tengok dan akupun yakin ini bukan rumahnya.

Entah qodam mana yang menyuruh batinku untuk kembali ke ruang tadi mengambil sesuatu yang tertinggal. Melangkahlah kakiku menurutinya.

Sedikit masuk dari pintu, kulihat dia menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya, full of tears, rambutnya tergerai kemana mana.

Aku tak tahu barang apa yang tertinggal dan apa yang hendak kuambil. Melihat dia yang sedang bergundah hati, aku membalikkan diri hendak menghindari, takut akan rasa yang belum pasti.

Beberapa langkah kaki, berhentilah aku karna panggilan mamaknya, menyentuhku dan berkata bahwa dia sebenarnya masih ‘mencintaiku’ atau ‘memikirkanku’ atau ‘merindukanku’ atau ‘mengharapkanku’ . entahlah, kata mana yang tepat diucapkan mamaknya kala itu, samar tapi bermakna semacam itu.

Aku kembali melihatnya yang tak tau aku sedang memperhatikannya, tears masih membasahi tangan dan bahunya kini terguncang.

Hatiku mengatakan ingin ku berlulut di hadapannya, kubuka kedua tangannya tuk melihat wajahnya yang sembab, dan seraya kukatakan “aku sudah di sini” . Kemudian aku membayangkan dirinya akan memelukku dan berkata “jangan tinggalkan aku lagi, maafkan aku” . 

Tapi aku masih hanya berdiri melihatnya 

Jam di atas televisi berbunyi ‘tiing, pukul lima pagi hari’. Sh*t, again?!! ya Rabbi, 5 kali sudah dan sampai kapan.. 

Kampret!!Belek mataku becek.

batas selimut lingkaran guling
dalam semesta kasur
16 Oktober 2012, H-5=B+4.

Selasa, 08 Mei 2012




Pantai Nguyahan 
Gunung Kidul Yogyakarta

Pantai nguyahan di sebelah pantai ngobaran, berbeda dengan Ngobaran, Nguyahan adalah pantai berpasir putih. Pantai Nguyahan menyerupai teluk kecil, sepanjang sekitar 200 meter. Dari pantai ngobaran, kita melalui jalan sedikit naik. Di jalan naik ini, di sebelah kiri, terdapat bukit karang tinggi yang dipncaknya terdapat semacam bangunan pura tetapi dipagari. Untuk naik ke puncak bukit, terdapat tangga semen yang memudahkan kita. Di atas bukit kita bisa melihat pantai Nguyahan berpasir putih. Penduduk menamainya dengan Nguyahan, disebut juga Ngoyan, atau Ngoyahan. Mungkin dari kata ‘uyah (garam)’ kali ya.


Di pinggir pantai terdapat beberapa bangunan pondok untuk bersantai, dan beberapa warung. Fasilitas lebih lengkap ada di Ngobaran. Jalan kaki dari Ngobaran hingga Nguyahan tidak sampai memakan waktu 15 menit, kurang dari itu. Setelah kita menanjak tiba-tiba disuguhi teluk kecil berpantai pasir putih yang jarang ada di pantai selatan.

Air pantai berwarna jernih. Yang sangat menarik, ombak di pantai ini pelan, seperti bukan di laut selatan yang berombak ganas. Ternyata, setelah bibir pantai, tidak langsung berhadapan dengan laut lepas, di depan bibir pantai menghampar karang batu yang luas, datar sepanjang puluhan meter dan baru menghantam laut lepas. Karang datar ini begitu luas dengan air laut setinggi mata kaki sehingga kita bisa bermain-main di sana tanpa ada ombak besar yang membahayakan. Terkadang masih sering ombak besar datang, tapi hanya sebatas paha orang dewasa.

Yang menarik pula, di batu karang yang datar menghampar tersebut terdapat pola-pola seperti ombak yang meliuk-liuk. Pahatan alam sang ombak kepada batu karaang, terlihat seperti ular yang memanjang sejajar dengan bibir pantai. Pola ini ada di sepanjang dataran karang. Di karang-karang ini kita bisa berburu bulu babi, bintang laut, dan anemon laut lainnya. Berburu untuk dilihat dan diamati tentunya. Tak menyangka sampai ketemu pantai seindah ini di gunung kidul, dan bikin kita makin bersyukur dan bangga dengan Indonesia.

Rabu, 07 Maret 2012

NGOBARAN BEACH


   GUNUNG KIDUL


ngobaran

Bangun pagi jam 5 di kos D.d, sholat di Masjid deket kos si D.d, lewat gang2 yang padat. Sekitar jam 6 pagi setelah packing kita keluar, cari sarapan. Kita ke jalan Malioboro lagi, di mulut gang ada yang jual nasi bungkus, gorengan anget. Kita makan di trotoar jalan Malioboro pagi, lumayan ramai juga. Menu nasi bungkus 2 ribuan, gorengan anget dan teh manis. Ane nambah 3 kali gan. Jalan Malioboro pagi penuh dengan olahragawan-wisatawan, atau sebaliknya.

Habis itu kita pamit dengan sobat kita D.d, dan meluncur. Karena belum beli oleh2, maka kita cari oleh2. Ane dapet titipan ibu suruh beliin gudeg “Yu Djum” di kawasan beteng(masuk beteng keraton). Gudeg ini udah langganan dan telah ada sejak lama, gudegnya manis, semanis Jogja,, ahayy. Trus kita cari bakpia, dan g tanggung2, kita langsung ke pabrik Bakpia 76. Di sana kita dipersilahkan nyobain bakpia anget, waahhh mumpung gratis,, ehhehe.

ngobaran
Setelah dapet oleh2nya, kita menuju Gunung Kidul. Agak bingung juga nentuin arah, soalnya pantai yang kita tuju belum ada yang pernah ke sana, belum begitu terkenal juga. Tanpa patah arang, dengan rute perjalanan yang telah disiapkan S.U dan bantuan GPS di smartphone si driver, kita mulai menemukan arah yang benar. Sepanjang jalan ke gunung kidul, terasa seperti yang sering terdengar tentang daerah ini. Kering dan gersang. Bukit2 kering,berbatu, pohon Jati meranggas, dan sepi. Jalan yang kita lalui meliuk2, dan agak sepi juga. Sempat bertanya2 apakah bener ini jalannya. Di sisi jalan ada pipa air yang membentang mengikuti jalan.

Setelah hampir 3 jam, sempat beberapa kali tanya arah ke penduduk setempat, sampailah kita di pantai Ngobaran. Pantai selatan dengan tebing terjal, ombak yang deras. Pantai (kalau bisa disebut pantai) harus turun lewat tangga dan sampai di batu2 tajam, ada karang besar, dan menjulang. Di atas karang, ada pura, batu tempat semedi. Pantainya cukup terpencil, masih agak sepi, walaupun waktu ane ke sana hari Minggu cukup sepi, yang datang masih kalangan anak2 muda yang touring motor. Tapi fasilitas lengkap, kamar mandi, tempat parkir, mushola. Asik juga nemu pantai yang masih belum banyak terjamah.

ngobaran
Dan kita pun turun, foto2, setelah sebelumnya parkir mobil, mandi (dari Jogja belum mandi,). Di atas pantai ada bukit, di atas karang, naik ke sana juga ada tempat semedi. Banyak tempat kaya gini ya di pantai selatan.  Tapi pemandangannya sungguh luar biasa,, laut selatan membentang dengan ombak besarnya. Di sebelah timur(arah kiri) juga karang2 bertemu dengan ombak laut selatan. Sementara di barat(arah kanan) ternyata .....


Ada sesuatu yang indah pula.... next


ngobaran coy



Selasa, 20 Desember 2011

MALAM MINGGU DI MALIOBORO

**************
Sabtu  11 September ’11 , 17.06 WIB. Setelah capek dan lelah sesorean di pantai Parangkusumo, kami  balik ke arah Yogyakarta. Kita mandi dan sholat dulu di pom bensin. Setelah ini adlah menghabskn malam minggu di Malioboro. Yataaaaa!!!

 Sampai di Malioboro kita bingung cari parkiran, krn ramai, terpaksa muter sekali lagi dan akhirnya dapet. Hbis itu jalan-jalan, belanja, ane blanja topi. Si S.K.m beli kacamata, dia nawar satu buah kacamata, pas nawar, ada 2 cew yg lagi nawar juga. Dengan gerak sigap, tepat, dan spontan S.K.m ngjakin join nawar bareng 2 cew tadi ke penjualny, hasilnya 3 kacamat dapet harga 50rb kalo g salah. Lumayan,,. Hbs itu cew pergi, sama kita2 lgsg diributin, cakepan yg mana, dsb. Hbs itu sempet jg ane diajak S.K.m ngejar cew tadi, krn blom sempt kenalan, tapi kita cari udh g ada, brti blm jodoh kali y. XD

Setelh itu kita masuk ke mirota batik, ane masuk lgsg naik ke lantai 2, soalny di lantai 1 bau menyan yg memang sengaja dikasih untuk wewangian, ane g tahan gan,, afgan.. di mirota batik kita cm liat2, emg pada dsrnya kta kurang cocok untuk wisata belanja, heheww.. karena bosan ane keluar dulu, nunggu yg lain di dpan, deket tempat andong ngetem, bonus bau kencing kuda. Daripada gitu lebih enak duduk di pinggir jalan nontonin jalan malioboro pas malem minggu, asoy,,, rame,, begitu hidup.. emang nih,kota budaya g ada matinya,, kultur, peradaban, masyarakt Jogya dan kotanya yg nentremin ati,. Jadi mellow ane, kangen terus sm Jogja..
Setelah kumpul lagi, kita cari makan, maka dipilihlah menu “gongso mercon!” atas rekomendasi D.d. kita pilih yg jual gongso mercon di trotoar malioboro. Wuuuuhhh gan nuansany yaaa....trotoar rame banyak orang lalu lalang, dari bakul penjual, berbaskom-baskom lauk, dengan kuah2 santan merah, kuning, daging2 ayam bertumpuk tinggi di baskom, lampu kuning penerang warung, asap dari nasi, teh hangat yg diseduh... uuuuhhhhhhhhhhh, indah bner negeri ini. Sampe ada bule yg ambil foto2 di situ, fotoin warungnya,foto tumpukan lauk di baskom2..
Dan rasa masakany g kalah sm nuansanya,duduk di sekitar baskom2,, gongso mercon terdiri dr lidah sapi dan daging, mercon-krn kuah pedesny pdes banget..ditambh lapar, kita makan dengan lahaapppppp!!! >.< aaaaaaaaaaaaaaaaa, masyaAllah, uenaakkk,, ajibbb,, laziiissss,. Pembaca  yg pada baca tulisan ini, kalo ke Jogja g nyobain ini, akan menyesal seumur hidup,,, ane jamin.. semoga ane berkesempatan mencicipiny lagi, dengan suasany yg sama,, (#gongso mercon seporsi 10rb). sayang g diambil fotony di sini,,
Habis itu kita jalan lagi,kita fot02 di tugu Jogja. Habis itu nyobain kopi joss- kopi yg diberi arang membara-arangnya mendesisss di sebelah stasiun kreta api. Tak terasa sudh hampir tengh malam,capekny badan tak bisa berbohong. Malam ini kita memutuskn menginap di kostany D.d, numpang istilahny. Kita parkir dimulut gang, masuk gang,kostny emg di daerah yg padat merayap, eh bukan deng, padat aj. Ane dn tmen2 tdur di ruang tamu pake tikar, berbantalkan sarung, dn lelap (alhamdulillah ane orangny gmpang tdur-asliny sih emg doyan tidur,,wkwkw)
 
Dan membayangkn petualangn esok hariny,,,, hwak

*Mirota batik jualan mulai dari pakaian, batik, aksesori, tas, kerajinan tangan, mulai dari yg mini, hingga pedang samurai, dari kayu, batu, logam2 perak,sepeda onthel dan sebagainya..pokokny lengkap deh.

Minggu, 11 Desember 2011

Pantai Parangkusumo
Yogyakarta 
11 Sept. '11

Setelah puas muter2 Tamansari,lalu kita makan di kostan D.d yg merangkap warung, dgn ibu kos (dipanggil umi) keturunan arab yg pamer foto suaminy yg ganteng berkumis. Lanjut ke destination selanjutnya. Rencanany kita mw ke pantai selatan.

peringatan-g boleh berenang!

Dari arah kota Yogya, lurus ke arah selatan,. Pilihan kami adalah ke pantai Parangkusumo. Pantai ini terletak di antara pantai Parangtritis  yang terkenal sbg objek wisata dan pantai Depok yang terkenal dengan seafood segarnya. Ane sendiri pernah ke pantai Depok 2 kali, nyobain seafood. Di Depok kita bisa pilih aneka ikan, udang, lobster, cumi, kepiting yang dijual segar di pasar ikan, letaknya di sebelah kanan area parkir. Ikan2 yang dijual bener2 segar, masih ada yang gerak2 juga malahan. Dari situ kita bisa minta warung2 makan di pinggir pantai untuk memasaknya, bisa goreng, bakar, asam manis, dsb. Biasanya sih di pasar udah ada calo2 dari warung makan itu yang nawarin untuk dimasakin, jadi tinggal kasih ke ibu2 ato mbak2nya, kita tinggal nunggu di warungnya. Ikan2nya dijual per kilo antara 10-30rb tergantung jenisnya.

pantai parangkusumo


 Kembali ke parangkusumo. Begitu sampai di depan gerbang masuk pantai Parangtritis, ada jalan belok ke kanan, ke arah pantai Parangkusumo dan Pantai Depok, kami ambil jalan itu. Sampai di depan gerbang masuk Depok, belok kiri, arah Parangkusumo. Jalannya bagus, dari belokan kiri tadi kita lewat bukit-bukit pasir putih, sebelah kanan menghampar ke laut selatan, sebelah kiri bukit2 pasir putih menjulang dan menghampar. Bukitnya  keren euy, bukit pasir putih, diselingi semak2, ada yg lagi poto pre-wedding malah.

pantai parangkusumo

Sekitar 10 menit dari belokan tadi, nyampe di area pantai Parangkusumo. Pantai ini agak sepi, ngga seramai Parangtritis ato Depok. Di sini ada pelataran dan monumen, warung2 agak jauh dari pantai, ada masjid kecil juga. Yang berkesan adalah anginnya di sini kenceng banget. Pasir2 berhamburan, rambut2 kita terutama yg gondrong tersibak-sibak. Sebelum masuk area Parangkusumo kita beli bola plastik, rencanany mw maen bola dipantai. (entah kenapa ane jadi inget Karya Wisata ke Bali waktu smp dulu, kita beli bola plastik dan maen dimanapun, di hotel-sampe tamu lain kena bola kita, di Kute, kita maen juga- di depan restoran di pinggir pantai-dengn cuek, setelah itu kacamata ane ilang pas maen papan surfing dan ombak #memorimuncultiba2)

bola angin
Tapi ternyata di Parangkusumo anginy kenceng banget, kita nendang bola ke depan, akan berbalik langsung, kalo dibiarin bola terus menggelinding. Dan akhirny bola yg kita beli ilang, krn pas ditendang searah angin, ane g bisa nangkap, dan terus menggelinding, ane kejar g berhasil, kalah cepat, gile, anginy kenceng banget, padahl ane termasuk yg pede masalah kecepatan berlari.(waktu SD pernah lari 100m ditempuh 10 detik, tapi apa daya terlalu betah ngdekem di kmr kos).


Di sore itu kami nikmati sore pantai, jalan ke arah Parangtritis yg rame, maen ombak, poto2, liatin orang mancing pake jala di pinggir pantai. Ada juga orang2 yg semedi, bersila diam menghadp laut selatan. Sekitar pukul 5 an kita putuskan untuk balik, angin mulai dingin. Kesan ane Parangkusumo yang sepi, mistis, angin kencang, bola hilang, pasir berterbangan.


parangkusumo Jogja

Dari lokus otak: #pas beli bensin setelah kmpus Institut Kesenian, si driver E.A.M sadar, ternyata penutup tangki bensin mobil tidak ada? Kemana oh kemana, dengan ingatan sederhna kmi, ternyta pentup tngki ketinggalan di pom bensin di Boyolali, wkt beli bensin pertama kali. Akhrnya sementra tangki bensin ditutup pake plastik dan diikat karet gelang. Waktu pulang kita samperin pom bensin Boyolali ternyata masih ada, alhamdulillah.

masi ada sambunganny gan...

Selasa, 08 November 2011


Lanjut gan,,
11 September- Hotel Karunia Jalan Sosrowidjayan Yogjakarta

Setelah kemaren crita ampe kita nemu  hotel yg pas dengan selera,,
Kita langsung aj check in dan masuk kamar.. malem itu, kita taruh barang, mandi gantian(kamar mandi luar). Tapi kamar mandinya lumayan nyaman, air nyala terus, dan ga rame.abis itu tidur...

Sekitar pukul 5 pagian, si S.U nampaknya bangun paling dulu,, lalu die bangunin kita2 suruh solat,abis itu males2an,. Si A.F.Z dan S.K ikut nimbrung di kamar kami. Si E.A.M curhat tadi malem katanya susah tidur, dan katanya pula tadi malem yg kamar sebelah ngobrol smp larut malam,, ane mah lgsg tidur begitu  nyium bantal, alhamdulillah, mgkin si driver kelelahan yg berkepanjangan,,

teman sarapan
           
  Jam setengah 9 pagi mutusin buat sarapan.. sarapan dilakukan di lantai paling atas hotel,, ternyata atap hotel, di pojok ada dapurnya... di tangga kita ketemu bule dua biji,, mereka nyapa duluan, kita malah yg kaget,, mana pake bahasa Indonesia lagi nyapanya,, “selamat pagi” gitu kata si bule cewek,,






view sarapan


view sarapan














Di atas kita langsung ngambil pesenan yg udah dipesen dari malem pas check in,, ane pilih nasi goreng sm teh manis, yg lain pada kopi,, ane mah g kuat minum kopi, soalny bikin perih bukan di mata bukan di hati tapi di lambung doang,,
Di atap kita bisa liat, suasana pagi jogja, ada yg ke pasar naik sepeda, , orang lagi jalan-jalan,

Kita sarapan sembari ngobrol ga mutu, foto ga penting, lirikin bule yg lagi sarapan,, doyan juga sama nasi goreng yg udah agak dingin tu bule,,
Turun lagi ke kamar, mandi, siap2 lanjutin perjalanan-tak lupa foto2 di depan kamar,sekitar jam 10 pagi  lgsg check owut,ambil ktp ane yg disandera buat jaminan,T.T

Keluar ke jalan Malioboro lagi, kita muter buat ketemu temen yg ngajak ketemuan,,sebut saja D.d .. kita parkir di dpn kntor dinas pariwisata,, ketemu si D.d di belakang halte trans jogja,, pagi2 gini halte penuh,,ketemu kita kangen2nan sm si D.d yg ternyta oh ternyata udah kerja di pemkot Jogja,. Ane smpet g percya, dari dulu ane kira si D.d ini orang keturunan Chinese gitu, soalny tampangnya kek gitu ( bukan bermaskud SARA atau merendahkan minoritas, cm biasanya orang keturunan g pada jadi PNS, malah ane salut sm mereka yg merantau jauh2 dari daratan dn bisa sukses di sini, kebanyakan pengusaha sukses di Indonesia jg orang Chinese gt dn ane jg pngen jadi enterpreuner sukses, amin)Dan ternyata si D.d ini mengaku keturunan Jawa sejati, emg sih wktu itu pernah futsal dia ngjak kakakny yg tampangnya jg wong Jowo.. hehehe,, sekali lagi alinea ini tidak ada maskud SARA atau sentimen etnis dan semacamnya,, piss gan >,<

Tujuan hari ini pertama adalah Tamansari,, dari malioboro sekitar seperempat jam,
Nyampe di lokasi kita parkir,, kata temen ane yg si S.U yg udah pernah ke sini, kita bisa masuk g bayar,. Caranya adalah lewat gang-gang rumah penduduk, lewat jalan belakang,. Emang sih tadi pas di parkiran ditawari tukang parkir untuk jadi guide jalan belakang,,

 #ada jg tukang parkir merangkap guide (??)

Tapi kami menolak, dengan mengandalkan ingatan tulang belakang si S.U, kita msuk gang, dan benar2 perkampungan penduduk, melewati ibu2 yg lagi nongkrong, eh g ding, maksdnya lagi ngobrol, trus lewt belakang rumah orang, ada yg nyuci, lwat rumah seniman lokal, rumahnya penuh lukisan2, berkali-kali ngucapin ‘nuwun sewu’, , krn kami baik hati kami minta sewu aj, g usah bnyak2, klo mint 10ewu kn kasian, pd bangkrut nanti (????!!!!!)

Dan beneran, kt masup ke kwasan Tamansari,lgsng nymbung dengan kawasan rumah penduduk gitu,, woowwww... bangunannya kuno, ky benteng, lgsng dah poto2,, di situ jg banyak yg lgi poto2,, si S.U dengan tulang belakangny yg memandu,,ke sana ke sini,,,


tamansari1




tamansari2
tamansari 3











Kita diajakin lwat jalan bawh tanah,,menuju ke tempat yg ane bingun ato blom tau namanya,,, pokoknya tempt itu sering muncul di FTV FTV favorit ane (???) dan  fotonya ky gini...


Tau g namany ap,, klo tau kasi tau dong, heheu :p

lorong Nagini
Di pintu masuk sblm lorong bwah tanah menuju tmpt ini ad 2 cewe yg ragu2 mw masuk,, tp begitu kita2 lewat dan msuk mereka pun memberanikan diri masuk,atu pke jeans yg atu pake rok jd sebut sj ‘JR’,yg  intinya mereka menjadikan kt tameng klo barangkali di dalem ad Voldemort ama Nagini si ular yg tiba2 muncul untuk merebut sorcerer stone yg kita g punya,, kn gaswatt,, (???!!) XDXDXDXD  



mbak J-R
Dan emg nasib klo kt2 ini ganteng,, kedua cewe ini beberapa kali bareng terus ama rombongan kt di bebrapa lokasi di Tamansasri ini,, g tau kenapa, kata orang mgkin jodoh,  atau mereka puny ketertarikan tertentu dg kelompk ajaib kt,, tp yg jelas klo pas bareng,, rombongn kita berada  di belakang mereka ...# jd perntnyaanny siapa yg ngikutin siapa,, ahahahahahah,,, XD



Pemandian Tamansari

Spot berikutny  yg kita kunjungi adlh pemandian selir Raja Tamansari..konon katanya pemandian ini tempat Sri Sultan memilih istri atau selir.. di pinggir kolam ada menara cukup tinggi tempat Sri Sultan ‘mengintip’ calon2nya pada mandi.. nah kalo Sri Sultan berkenan dengan salahsatu dari wanita2 yg lagi mandi itu, beliau akan melempar seikat kembang kepada wanita yg dikehendaki,, gitu ceritanya...

pemandangan Sultan dari menara
menara 'pengintip'











Oleh karena kepengen tau rasanya ngintip ky Sultan, kami pun naik ke menara itu,, ( ketemu si JR tadi jg lho). Sebelum masuk, pas kita masih liat2 kolam pemandian yg terdiri dr 2 kolam besar dn 1 kolam kecil,. Si A.F.Z yg td agk terdiam baru sadar Hpny g dia bawa,, ktnya td dia ud puny firast g enak makanya agak diam,, pdahal dia adl seksi ceria kami.. dicoba di-misscall,, nyambung,, tapi g ad yg ngangkat, dan..

Q.E.D    misteri terpecahkan,, tanpa mempertaruhakn nama baik kakek dan tidak perlu peluru bius

Kesimpulan: hape A.F.Z tertinggal di mobil, dengan saksi kunci si Driver, dan ane yg samar2 dengn ingatan fotografis ane yg lumayan cekak, hanya setingkat di atas makhluk bersel satu, si A.F.Z menaruh hape di deket jok depan sebelah supir, di belakang persneling/kopling, mgkn tertutupi bungkus2 camilan yg tdk tau tanggal kadaluarsanya.. :p

Setelah beliau lega mendengar kepastian nasib hapenya yg digantungkan dengn kesimpuln di atas, kita pun lanjt lagi,, naik ke menara, ngrasain ‘ngintip’ ala Sultan,. Lanjt ke ruangan tmpt para calon selir ganti baju,, di sini ada kejadian lagi,,, si S.U tersepona oleh seorang turis cewe dari Jepang,,, yg kulitnya putih banget, sipit, cantik ( tapi kok tau dia dari Jepang y?,, g tau,, pokokny kami tau dia orang Jepang) tapi sayang dia sama cowoknya ( kok tau kalo dia cowokny?,, g tau,, pokoknya kami tau dia cowokny-insting para jomblo).. di sini kita merasa benar2 ‘beda level’ secara fisik dengan kedua pasangan Jepang itu, mereka kaya yg di drama-drama, cakep, tinggi,,  tapi kira g boleh merasa rendah diri terhadp Nipon atau Jepun( sebutan seorang Sabeni tanah abang thdp mantan penjajah ) seperti mereka ,, kita ini bangsa besar, banyak negara lain ngiri sm kita, yg beragam budaya, bisa idup rukun, sumber daya melimpah, tapi dengan rela kita kasih ke orang luar, kita cukup hidup sederhana bekerja pas-pasan sama mereka.. wakakakakakakkaka


Setelah itu kita istiraht dn solat masjd “Soko Tunggal” di kompleks Tamansari tersebut.. di depan msjid ad yg parkit ‘brompit’ ato sepeda yg ada motornya, kecil,imut, klasik, elegan,.haha. ane coba naik, ane coba klakson ternyata bunyi, gileee,, akaka, ternyata sehabis itu ad ibu2 yg masih pake mukena keluar dr masjid trus ngmbil sepda itu, trus dinaikin, tak lupa beliau jg tersenyum ramah pada kita yg nongkrong deket sepedanya,,trus ibu itu pergi pake brompitnya masi pake mukena yg agak berkibar pelan sepelan kecepatan sebuah brompit kecil... wuihhhhh bersahaja,, Yogyakarta emang menawarkan kesahajaan kaya gini, ,,

Bersambung dulu mas agan,, biar g kepanjangan,,,,.>.<



Minggu, 09 Oktober 2011


10 september 2011 Sl3-Solo-Jogja



Lumintu, grup di fb berisi sekumpulan anak lulusan akademi futsal-lapangan basket smanssa (Salatiga)-jam latihan sampe capek-dengan dan atau tidak memakai sepatu-tak peduli panas dan hujan. 

Lumucu, grup di fb dengan anggota yang sama dengan yang di atas. Bisa dikatakan kalau Lumintu itu grup yang membahas hal-hal yang serius, sedangkan Lumucu membahas sisi-sisi lucu dengan seselan ‘um’ dalam bahasa Jawa, entah apa maksudnya.

Lumintu dan Lumucu tergabung dalam Ar-royyan dan Konco Penak.
 (sekumpulan anak dengan nama kumpulan yang banyak)

Di hari libur yang itu, semenjak 2 minggu sebelumnya berjanji untuk kumpul dan plesiran ke Solo-Jogja. Terkumpullah 5 orang dari sekian banyak anggota setelah menjalani proses seleksi yang tidak sulit, yakni:
a.       S.U- admin
b.      S.K-dokumentasi
c.       E.A.M- driver isuzu Panther warna merah
d.      A.F.Z-seksi ceria
e.      M.A.D.n-anggota

Ane yang mana hayoo???  :P

15.00 WIB
Setelah semua personil kumpul di rumah A.F.Z, setelah sholat ashar, setelah itu berangkat menuju Solo.
Langsung saja

Sekitar pukul 5 sore tiba di Solo. Tujuan: Kampus Universitas Negeri Sebelas Maret. Tujuan Utama: menemui anggota kita yang berada di Solo dengan kesibukannya. Yang satu bertugas di UPT Komputer kampus UNS sebut saja W.A.P, yang satu  sibuk di medan dakwah yakni beliau Sy.Um.

Kami mengunjungi teman kami yang ada  di server UNS, habis itu janji untuk ketemu dengan yang satunya lagi di masjid kampus sekalian solat Magrib. Dan seteleh kumpul kita kangen-kangenan, guyon-guyonan, ngece-ngecenan seperti dulu waktu muda.

Setelah itu kita cari makan di Galabo kota Solo. Di daerah dekat alun-alun, ada jalan yang diubah jadi food court kalo malam. Dan kami ke situ. Elegan, lampu kuning , payung, dan aneka pilihan makanan. Begitu duduk kami diserbu tawaran menu dari berbagai warung. Karena ga nyaman ane milih jalan sendiri cari menu, meninggalkan kawan2 yang dikeroyok tukang menu.

Karena dikeroyok temen2 pesennya hampir sama, bebek goreng, minum es teh. Ane seteleh bolak-balik sendiri akhirnya pesen nasi Timlo yang khas Solo sama es beras kencur. Si S.U sang admin agak menyesal karena tidak leluasa memilih kaya ane..XD

 galabo cuy

# Makan di Galabo rata-rata 15 ribu udah sama minum

Di sana tak lupa poto-poto, oleh2. Setelah itu kami cari masjid buat buat isya’an. Jalan ke alun2, lewat empat pohon beringin besar, menuju masjid Ageng. Ternyata pintu depan sudah dikunci,kira2 waktu itu jam 9 malem. Kita lewat pintu samping. Waww, masjid yang tua. Di tempat wudhu dan wc ada tulisan tahun 18-sekian. Jadi ni masjid sejak abad 18???. Kami sholat di teras masjd, yang kaya di pendhopo. Lantai marmer besar kuning, tiang pendhopo yang banyak, berasa solat di tempat pewayangan. Pintu masuk ke dalam masjid juga penuh dengan ukiran.

Setelah solat kita beranjak pulang memulangkan kedua anggota ke tugasnya.
Dan setelah itu, langsung menuju Jogjaaaaa.

Sepanjang perjalanan dari Solo-Klaten-Jogja, gonta-ganti musik pengiring perjalanan dari berbagai aliran. Yang paling aneh saat kita nyetel lagu anak-anak,.koleksi pak driver memang paling lengkap. Yang paling asik saat kita memutar lagu-lagu iwan fals, semua ikut bernyanyi, semua ikut berdendang,..

Ooooo oo o hari ini aku bahagia.....
Kau kembali....
Ooo oooo oo o hari ini aku bahagia...
Jatuh cinta lagi....
#Iwan fals-mabuk cinta

Hampir tengah malam kita nyampe di Jogja, tepatnya di kawasan jalan Malioboro. Kemudian ane, S.U, dan driver E.A.M berjalan untuk mencari penginapan yg murah. Kami masuk ke daerah Sostrowijayan. Melihat hotel yang pernah disinggahi S.U sebelumnya, ternyata penuh. Kemudian ditawari calo, diajak melihat sekitar 3 hotel kami g ada yang cocok. Yang murah tempatnya parah, yang bagus kemahalan, trus piye?? Sementara kita sudah lelah apalagi sang driver.

Lalu kita putuskan cari lagi sendiri. Masuk ke jalan lain, telusuri sampe ujung, g ada. Belok kanan, trus ketemu Sosrowijayan lagi di ujung lain. Masuk ke situ lagi. Kita lihat, langsung tanya. Ada yang lumayan, terjangkau, fasilitas lengkap, dan nyaman, ada parkir. Hotel Karunia namanya.


# Tarif: 80rb perkamar+30 rb untuk ekstra bed.
# Fasilitas: 2 tempat tidur, meja kursi, kamar mandi luar, Sarapannn! (menu nasi goreng atau roti bakar,pilih salah satu), ruang bersama.





Setela itu kami keluar. Masih sempet juga nanya2 ke satu-dua hotel. G cocok. Akhirnya kami balik ke mobil. Langsung menuju hotel Kurnia. Bayar,bantu parkirin mobil, naik ke atas, ganti baju, mandi, ngobrol bentar, bobo.
Bersumbang.....